Postingan

Menemukan Hening dalam bising

Gambar
  Beberapa hari ini, ruang doa kami pindah ke kapel depan karena kapel kecil yang biasa kami pakai bocor dan harus di renovasi. Perasaan awal yang muncul adalah tidak nyaman karena suara kendaraan dari luar-tepat di sebelah kapel adalah jalan raya- terdengar keras mengalahkan merdunya alunan mazmur yang kami daraskan. Jujur saja, hatiku bergulat ingin agar bisa kembali ke kapel biasa. Hingga suatu malam dalam heningku, saat aku mencoba bersahabat dengan setiap suara yang masuk ke telingaku, membiarkan semua suara itu hadir dan berdamai dengan semua rasa akhirnya membawaku pada sebuah kata bernama keheningan. Suara-suara yang ada, kini bagaikan instrument yang menghantarku pada yang Ilahi. Aku tertegun. Suatu yang dating dari luar bukanlah alas an untuk dapat hening. Yang terutama adalah usaha dan kemauan untuk “berdiam”. Demikianlah kesibukan, kebisingan bukanlah alasan yang dapat mengubah relasiku dengan yang Ilahi. Sesibuk apapun dunia diluar sana jika hatiku dapat kuolah dan...

Aku sadar bahwa aku tak selalu benar, hanya merasa benar

Gambar
  Siang ini aku mendapat pesan dari yayasan mengatakan bahwa jumlah uang yang aku kirimkan salah. Spontan aku marah karena merasa bahwa aku sudah melakukan penghitungan sesuai dengan perminntaan yayasan. “ Apa ada kenaikan tunjangan lagi? Soalnya saya sudah mengikuti pembayaran bulan April ” kataku agak ketus lewat percakapan whatsaap . Dengan perasan bahwa aku benar, aku melihat lagi catatan bulan lalu. Iya, sama. Tidak ada koreksi. Sampai akhirnya aku lihat mundur. Dan benar saja. Catatan bulan April yang aku gunakan sebagai acuan adalah catatan yang salah. Ya, aku salah. Dan dengan agak malu-malu, aku meminta maaf. Begitulah hidup. Apa yang kita yakini benar, tak selalu benar. Hanya perasaan!! dan ada ruang dimana perasaan kita itu tak dapat melihat lebih jauh ke belakang. Dalam situasi demikian, kita perlu diam sejenak. Menyusuri titik-titik perjalanan yang kita lalui, agar kita tahu dimana letak kesalahan yang kita lakukan. Pengalaman ini, mengingatkanku pada masa-masa p...

BERBAGI HIDUP

Gambar
  Pagi ini, saat sedang melakukan kegiatan rutin di klinik, tiba-tiba satpam memanggil dan mengatakan ada orang-yang tak ku kenal- ingin berbagi bibit pepaya. “Suster, bisa tanam 3 di klinik. Nanti berbuah banyak dan dapat dibagi-bagi”   Dengan senang hati aku menerimanya dan tentunya menanam dengan sukacita pula. Entah mengapa, aku merasa dan meyakini bahwa pemberian sederhana ini adalah berkat . Dari sang pemberi aku belajar untuk berbagi, ya, berbagi kehidupan. Inilah makna terdalam yang ia ajarkan padaku “sudahkan hidupmu membawa hidup bagi orang lain?” Aku sendiri, perlu belajar terus menerus. Sambil menanam pepaya (Red California), aku memohon berkat agar hidupku pun bertumbuh dan berbuah bagi sesama.   Terimakasih semesta dan semua guru kehidupan yang membuatku semakin mengerti dan memaknai hidup dalam terang yang Ilahi.   Salam, Sr Maria Rosa, SDP  

Tuhan memberikan rahmat di setiap jawaban “Ya” yang diucapkan untuk mengikuti kehendak-Nya.

Gambar
Hari ini... Aku mengadakan perjalanan yang cukup jauh dari Temanggung ke Magelang untuk urusan sebuah perizinan. Perjalanan itu tampak begitu tak mudah karena hujan lebat turun mengguyur seluruh tubuh. Belum sempat sebuah keluhan keluar dari mulut, tiba-tiba saja pandangan mata sudah tertutup oleh butiran hujan yang mengganggu dalam perjalanan. Tangan mulai kaku, dingin mulai menusuk sampai ke tulang-tulangku. Alih-alih mengeluh, guyuran air hujan ini lebih membuatku beryukur. Setidaknya, aku masih bisa menikmati guyuran hujan di belakang rekan kerja, yang berjuang mengemudikan sepeda motor, berpacu dengan kendaran-kendaraan lain dan aku duduk tenang dibelakangnya.  Dalam keheningan bersama alam yang bersenandung di bawah hujan, aku mengenang kembali perjalanan menanggapi panggilan-Nya. Banyak hal tak terduga dalam perjalanan itu, juga sering kali berjumpa dengan gang buntu. Ah, tentu ini sangat tidak mengenakkan. Harapan untuk segera sampai pada tujuan segera saja terhenti dan har...

Pandemi, Penjara dan Panggilan untuk Kembali

Gambar
Berawal dari sebuah pertemuan yang sudah “terlupa” dari ingatan, membawaku bertatap muka dengan teman-teman di Lapas Pemuda Tangerang. Terimakasih untuk Pak Singgih yang telah memutar kembali memori ku berjumpa dengannya beberapa waktu lalu.  " Pernahkah suster melakukan pelayanan di penjara? " tanya beliau melanjutkan bincang-bincang kami lewat WA.  “ Pernah dan ingin ” jawabku sambil mengenang masa postulan saat mengunjungi penjara bersama  pembimbing dan teman-teman satu angkatan. “ Sudah sangat lama” kataku menambahkan. Bersamaan dengan itu, muncul kembali pengalaman mengunjungi pejara kira-kira 11 tahun lalu. Aku memasuki lorong demi lorong di penjara itu dan ketika hampir tiba di ruang doa, tiba tiba aku mendengar suara yang lantang memanggil namaku “ Mbak Ros” Aku masih terdiam dan tak menoleh, bagaimana mungkin di penjara ini ada yang mengenal aku? Aku melanjutkan langkah dan tetap tak menoleh. Suara yang sama memanggil namaku lagi dan suara itu makin d...

Tampaknya Sejak Kecil

Gambar
Ingatkah engkau masa kecil kita? ............. Tampaknya sejak kecil kita telah dilatih untuk menderita dan berjuang. Tak ada waktu liburan, tak ada waktu jalan-jalan. Setiap hari kita, telah dibagi dengan  tugas masing-masing. memasak, ambil kayu, cuci piring dan “ mangalap aek ”. Kadang kita mengeluh, kadang kita protes, kadang kita nakal dan ingin lari. Tetapi kita toh akhirnya menjalani dan menyelesaikan setiap proses yang ditawarkan kehidupan. .............. Tampaknya sejak kecil kita telah dilatih untuk menderita dan berjuang. Dan hal yang paling ku ingat adalah saat kita harus “ mangalap aek ” ke aek huta . Aku paling benci jalan itu ( walau sekarang aku telah menerimanya ): menurun, licin dan penuh perjuangan. Jalan yang kita lalui juga jalan yang berbeda dari yang lain. Mereka (teman-teman kampung lainnya) datang dan pergi dari arah yang berlainan dari kita. Mereka bisa bersama saat datang dan pulang, sementara kita, ya hanya kita, berempat. ............ Tam...

RAHIM

Gambar
Membantu proses kelahiran, membawa ku pada pengenalan akan makna RAHIM , sang terminal kehidupanku . Disanalah awal pembentukanku, disanalah benih kehidupan bernama Maria Rosa ditaburkan. Rahim itu, telah menerima kehadiran janin kecil, merawatnya dengan kelimpahan dan menjaganya dari kematian. Rahim adalah tempat paling nyaman bagi seorang yang mengalami hidup. Bila waktunya tiba, rahim itu takkan pernah egois, dia tak menahan kehidupan dan suatu yang dititipkan padanya untuk dimiliki sendiri. karena jika ia menahan terlalu lama, janin itu tak akan mengalami kehidupan. Ya!!! Kematian. Dia akan bekerja keras, berkontraksi, agar janin mengalami kehidupan yang sesungguhnya, dimana sang bayi akan hidup dari dirinya sendiri. ia harus dilahirkan. Proses kelahiran inilah yang dialami oleh setiap orang yang disebut manusia, sementara RAHIM adalah Alah sendiri yang telah melingkupi, menjaga dan menumbuhkan agar benih kehidupan sungguh mengalami kehidupan. Dalam rahim, ia mengalami ke...