Postingan

Menampilkan postingan dengan label Hodie Incipiem

Es Teh dan Panas Dalam

Gambar
Seorang suster menyapaku saat berada di ruang makan.  “ Tumben, minum air es ” begitu sapanya melihat aku- yang memang sangat sangat jarang minum yang dingin-dingin-, sore itu memasukkan es batu dalam gelas yang berisi teh. Hari hari ini memang sangat panas, apalagi setelah dari kampus dengan jalanan yang ramai dan panas membuat keringat bercucuran. Sangat tidak nyaman. Maka aku berinisiatif membuat es teh. “ Duh Gusti, segarnya ” seru ku begitu mengalami kelegaan melalui tegukan demi tegukan es teh yang melewati tenggorokanku. Sambil ngadem , kami mulai pembicaraan mengenai kegiatan harian yang terjadi. Lalu, tiba-tiba seorang suster berkata “ ya kalau panas karena udara begini bisa didinginkan dengan es teh, la kalau panas dari dalam? Es teh tidak cukup ” katanya sambil berlalu Memang tidak cukup. Perlu dirilis dan bersihkan. Sahutku dalam hati. Masih menikmati tegukan yang menyegarkan dari es teh itu, saat susterku sudah berlalu meninggalkan ruang makan, aku merasa-rasak...

Sampah oh sampah, mengapa aku membawamu kemana-mana?

Gambar
  Hari ini libur, jadi kuniatkan untuk merapikan file photo-photo di hardisk ku. Entahlah, sudah berapa lama aku tak merapikan photo dan dokumen yang ada. Setiap kali memori handphone  penuh, aku langsung memasukkan photo-photo pada hardisk tanpa melihat apakah photo dan dokumen ini penting atau tidak. Kendalanya, setiap kali aku butuh photo untuk kebutuhan Kerasulan Pannggilan, atau saat ada suster yang meminta photo dariku, butuh waktu yang lama untuk mencari. Perlahan - lahan ku pilih, mana yang harus di buang mana yang perlu dimasukkan dalam folder. Tadi, aku sudah menghapus satu kloter. Entah, berapa banyak photo yang tak perlu lagi masih tersimpan dan memenuhi hardisk ku. Aku terkaget saat hendak menghapus file kloter kedua. 27.830 item. What??? Sebanyak ini sampah-sampah yang tak berguna ku bawa-bawa, memenuhi memori card ku. Memang, butuh waktu untuk selalu merapikan dan membuang yang tak perlu. Bukankah demikian dalam hidup? Adakalanya, tanpa sadar, tak punya w...

Rambut Panjang Tinggal Kenangan.

Gambar
(Gambar dari internet) Sudah beberapa waktu aku merasa terganggu karena rambut panjangku mulai rontok dan mengotori lantai kamar. Sedih rasanya setiap kali menyapu kamar, banyak rambut yang rontok berceceran di lantai. Maka sebagai niat, sesudah ujian proposal, aku buat jadwal untuk potong rambut. Walau sebenarnya masih berat, belum rela. Tapi ya, mau bagaimana lagi. . Sampailah di salon, hari ini.  "Suster, rambutnya sudah terlalu panjang, jadi akarnya nggak kuat, makanya rontok" Aku merasa-rasa perkataan ibu salon. Tampaknya bukan karena panjang, maka akarnya nggak kuat. Masalahnya adalah akarnya tidak kuat sehingga tidak kuat pula menanggung beban rambut yang makin panjang. Hmmm Aku sedang tidak berbicara mengenai rambut. Tetapi kata akar, sungguh menyentuh bagiku Bukankah hidup juga demikian? Ketika aku mengakar kuat pada Allah, maka seberat apapun perjuangan tak akan mematahkan ku. Sesulit apapun jalan yang dilalui, jika akar iman melekat kuat pada diri, maka akan dimamp...

Sensitif?

Gambar
  Sensitif, bagaimana mungkin? Tadi siang, setelah latihan persiapan Temu Hari Anak Misioner di Paroki, bersama Sr. Paulina aku segera pulang ke komunitas karena sudah janjian untuk Yoga dengan pasien. Di perjalanan, aku teringat bahwa perlu membeli buah untuk komunitas. Maka mampirlah kami di toko buah langgaran. lihat sana-sini, sampailah pada keputusan untuk membeli duku. Saat hendak memilih, sang penjual katakan “ pakai ini mbak, soalnya buahnya sensitif ” katanya sambil menyodorkan piring melamin padaku. Aku mengernyitkan kening. “ kalau disentuh tangan, buahnya sensitif, jadi cepat hitam mbak ” lanjutnya seperti membaca pikiranku. Buah duku, gampang menghitam- sensitif- seperti bahasa penjual buah. Kata -kata itu masih menggelitik dihatiku, buah duku mempunyai sensitifitas pada panas sehingga saat disentuh oleh tangan manusia, cepat berubah menjadi hitam. Buah si buruk rupa demikianlah duku sering dijuluki, walaupun sebe...

Tampak Kuat dalam Kerapuhan?

Gambar
  Hari-hari ini aku merasakan gigiku bermasalah lagi. Setiap kali gosok gigi terasa ngilu dan sakit saat terkena air yang dingin. Kuputuskan untuk periksa ke dokter. Apakah tambalan kecil sebelumnya rusak, atau ada masalah lain? Dokter mulai memeriksa, sambil mengetuk satu gigi dengan gigi lain dokter bertanya, apakah rasanya beda atau sama saat mengetuk gigi yang berbeda. Aku tidak sedang ingin bercerita tentang proses pemeriksaan gigi dari awal sampai akhir. Yang menarik bagiku adalah kata-kata Drg. Dinda “Suster, giginya dari luar tampak kuat tetapi sebenarnya di dalam sudah rapuh” sambil menyarankan agar ditambal dahulu, jika tetap sakit maka perlu Perawatan Saraf Akar. Aku merenungkan kata-kata singkat tetapi sangat dalam – menurut versiku- adakalanya sesuatu begitu tampak indah, kuat, gagah dari luar tetapi di dalam begitu rapuh dan rusak. Bukankah demikian kadangkala terjadi dalam hidup? Dunia “memaksa” kita untuk menjadi tangguh, sampai kita lupa caranya menikmati dan...

Soal Baru, Jalan Baru, Rahmat Baru

Gambar
“Aku kok MTBS nggak mudeng ya? Apa pas dijelaskan aku entah kemana?” kata ku memulai pembicaraan di group wa setelah ujian komunitas selesai. “Aku merasa belum ada materi MTBS di komunitas, apa aku ketiduran ya?” Sulis melanjutkan “Aku juga merasa belum pernah mendengar” Kata mbak Hesty yang semakin menguatkanku bahwa materi itu memang belum kami pelajari dan mengapa banyak muncul di soal ujian. Tentu hal yang mengagetkan, aneh dan sulit untuk diterima, saat diri merasa belum siap dan mendapatkan soal ujian yang tak sesuai dengan apa yang dipelajari – tentu ini adalah versiku. Tetapi jika memandang lebih luas, materi itu adalah bagian dari kebidanan yang kami geluti dalam asuhan kebidanan komunitas. Aku tertegun sejenak. Bukankah kadangkala hidup pun demikian adanya? Ada soal-soal baru dalam kehidupan, yang tampaknya belum pernah ku pelajari dalam hidup. Ada situasi situasi baru yang membuatku kaget karena merasa baru pertama kali mengalaminya. Jalan baru itu, persoalan ba...
Gambar
Tiga hari, kami angkatan alih jenjang berjuang melampaui satu tahap untuk bertumbuh. Ujian sudah usai, tetapi kebersamaan, semangat dan keramaian di selasar depan laboratorium kebidanan lantai 6, masih terngiang hingga malam ini. Dibalik usaha untuk melewati ujian, ada satu hal yang menarik yang membuatku berkata dalam hati sesederhana inikah bahagia? Sudah dua hari, kami – atau mungkin hanya beberapa termasuk aku – sangat ingin memasuki ruangan teater yang biasanya dipakai untuk kuliah kelas besar. Tetapi kesempatan itu selalu terhenti karena ada kelas regular yang selalu memakai ruangan itu. Alasannya sederhana, “ kok keren… kayak bioskop ya, ingin photo yaaa” Hari ini, karena mungkin Sabtu jadi tidak banyak mahasiswa yang ke kampus, jadilah ruangan itu kosong. Dengan semangat -sementara ujian sedang berlangsung- kami segera berlari menempati kursi-kursi yang empuk, duduk dengan mata yang berbinar-binar karena akhirnya dapat menduduki ruangan yang sangat ingin kami masuki. Deng...

UJIAN

Gambar
Sejak diumumkan ada perubahan jadwal OSCA -ujian yang “menyeramkan” bagi mahasiswa kebidanan (paling tidak, itulah pemikiranku di awal, dan masih saja buat deg deg an), WA grup Pejuang Ijazah S1 Kebidanan mulai ramai. Apa yang perlu dipersiapkan, skill mana yang kira-kira diujikan dan siapa yang akan menjadi penguji. OSCA, ujian skill kebidanan dimana tiap stage mahasiswa hanya diberi waktu 7 menit untuk menyelesaikan kasus yang ada. Dan jantung selalu berdetak kencang saat bunyi bel memecah konsentrasi dan segera harus pindah ke stage berikutnya untuk menyelesaikan kasus baru sesuai petunjuk. Itu sangatlah “menyeramkan” Ketegangan itu makin terasa saat satu persatu dari kelas regular dipanggil. Kami yang kelas alih jenjang mulai meraba-raba, bahwa yang keluar adalah skill a,b,c,d. Sontak kumpulan mahasiswa kebidanan menghapalkan skill pemberian MGSO4 yang sama sekali diluar “penerawangan” kami. Seorang teman nyeletuk “ini tidak sesuai kenyataan dilapangan”, yang lain menimpali “ce...

Bagaimana Kabar Hatimu?

Gambar
  “Lalu aku harus gimana?” Kata gadis mungil itu secara singkat lewat pesan WA nya “Tanyalah hatimu!!!” Kataku padanya. “Baik suster, saya pergi ke hati dulu” Lanjutnya, dan menutup pembicaraaan kami sore itu. Perlahan, bis itu melaju kentjang, menembus kabut kekhawatiran dan keraguan menuju Cikarang. Dia telah mengikuti kata hatinya . Bagaimana kabar hatimu hari ini kawan? Itulah yang selalu ingin ku tahu, bahwa perlu kita sesekali mengunjunginya, berbicara banyak hal di dalamnya, dan bahkan mengambil keputusan daripadanya. Bagaimana kabar hatimu hari ini, gadis mungil? Setelah memutuskan untuk melangkahkan kaki memilih bekerja di Cikarang? Mungkin saja, jawabannya tak selalu soal kebaikan dan kebahagiaan, tetapi apapun yang berasal dari hati, akan Kembali menguatkan hati. Apapun yang terjadi, semoga engkau tak pernah lupa bahwa hidupmu BERHARGA. Harimu, sungguh luas!!! Bersumber dari hati-Nya yang juga lebih luas Tua Providentia Pater Gubernat Sr. Maria Rosa, SDP

Dua Saset Coklat dan Cinta dalam persahabatan

Gambar
    “Aku bawa dua saset coklat, satu untukmu, satu untukku” katanya sambal meletakkan 2 bungkus coklat diatas meja Tentu saja ini adalah hal yang sangat menggembirakan bagiku. Sahabat ku ini, selalu punya cara untuk berbagi semangat. Segelas coklat telah kunikmati, sesaat setelah ia memberikan. Karena terburu-buru saat beres-beres saat hendak melanjutkan perjalanan, sesaset coklat itu tertinggal di kamar dan aku menyimpanya. Berhari hari, tak tersentuh. Aku tersadar ketika beres beres lagi. “Lu, coklatmu untukku saja ya” sapaku lewat pesan WA “Coklat apa?” tanyanya, mungkin pula tak ingat lagi kalau dia punya sesaset coklat yang tertinggal. “Duluuuu, coklat saset” jawabku singkat dan diikuti jawaban ya darinya. Pagi ini, sambil menunggu perkuliahan aku menyeduh segelas coklat hangat. Betapa manisnya!! Semanis persahabatan yang kami jalani hingga saat ini. Aku belajar banyak darinya. Belajar untuk mencintai dengan hal kecil dan sederhana. Sekali lagi, dia sela...

Benar katamu, mbak Ri

Gambar
  Benar katamu, mbak Ri. Bahwa hidup itu adalah pilihan. Termasuk saat aku memilih untuk maju atau mundur menerima rasa yang tidak nyaman ini. Aku tak dapat memungkiri, bahwa kehidupan itu kadangkala bagaikan gelanggang pertandingan, dimana yang satu berjuang mengalahkan yang lain. Menjadi pemenang! Itulah harapan semua orang, tapi bagaimana mungkin semua orang itu akan menjadi pemenang? Jika satu menang, yang lain pastilah yang kalah. Dan realita lainnya adalah bahwa saat kita telah berjuang dengan sangat kuat, mempersiapkan dengan sangat baik, kehidupan seakan tak memperhitungkan usaha dan kerja keras kita. Dengan tidak adilnya, -menurut versi kita- kehidupan menghadiahkan kekalahan pada perjuangan hebat yang ingin kita banggakan. Tetapi, benar katamu mbak Ri, bahwa hidup aadalah pilihan. Bahkan saat aku kalah dalam sebuah pertandingan, aku tetap dapat memilih menjadi pemenang atas rasa gagal dan keinginan untuk menyerah. Satu hal yang kini muncul sebagai sebuah kekuatan,...

OVERLOAD, ATAU KAPASITAS RENDAH??

Gambar
Tiba-tiba saja!!! Laptop yang ku gunakan menjadi lemot , bahkan untuk membuka dokumenpun menjadi sangat lambat. Hal ini terjadi, setelah aku memasang aplikasi editor video di laptopku. Bahkan ketika membuka editing video tersebut, membuat laptop menjadi heng (red: macet). Dengan sedikit jengkel, aku mencoba bertanya sana sini. Setahuku RAM laptop ini sudah dinaikkan. Tetapi mengapa masih tetap mengalami kendala seperti ini?? Seorang teman yang mengerti soal per-laptopan mengutak atik dan sampai pada kesimpulan “prosessor pada laptop suster sudah jadul, terlalu kecil sehingga dia tidak dapat bekerja ketika ditambahkan aplikasi baru” . Padahal, menurutnya, dua aplikasi yang dimasukkan dalam laptop ini adalah aplikasi yang kecil, tetapi tetap saja grapich card- nya tidak dapat bekerja mengolah data yang ingin ku kerjakan. “Prosessor itu, istilahnya “otak” komputer atau laptop, suster ” tambahnya menjelaskan. Aku terdiam merenungkan pengetahuan baru yang ku temukan. Utak atik laptop m...

Menemukan Hening dalam bising

Gambar
  Beberapa hari ini, ruang doa kami pindah ke kapel depan karena kapel kecil yang biasa kami pakai bocor dan harus di renovasi. Perasaan awal yang muncul adalah tidak nyaman karena suara kendaraan dari luar-tepat di sebelah kapel adalah jalan raya- terdengar keras mengalahkan merdunya alunan mazmur yang kami daraskan. Jujur saja, hatiku bergulat ingin agar bisa kembali ke kapel biasa. Hingga suatu malam dalam heningku, saat aku mencoba bersahabat dengan setiap suara yang masuk ke telingaku, membiarkan semua suara itu hadir dan berdamai dengan semua rasa akhirnya membawaku pada sebuah kata bernama keheningan. Suara-suara yang ada, kini bagaikan instrument yang menghantarku pada yang Ilahi. Aku tertegun. Suatu yang dating dari luar bukanlah alas an untuk dapat hening. Yang terutama adalah usaha dan kemauan untuk “berdiam”. Demikianlah kesibukan, kebisingan bukanlah alasan yang dapat mengubah relasiku dengan yang Ilahi. Sesibuk apapun dunia diluar sana jika hatiku dapat kuolah dan...

Aku sadar bahwa aku tak selalu benar, hanya merasa benar

Gambar
  Siang ini aku mendapat pesan dari yayasan mengatakan bahwa jumlah uang yang aku kirimkan salah. Spontan aku marah karena merasa bahwa aku sudah melakukan penghitungan sesuai dengan perminntaan yayasan. “ Apa ada kenaikan tunjangan lagi? Soalnya saya sudah mengikuti pembayaran bulan April ” kataku agak ketus lewat percakapan whatsaap . Dengan perasan bahwa aku benar, aku melihat lagi catatan bulan lalu. Iya, sama. Tidak ada koreksi. Sampai akhirnya aku lihat mundur. Dan benar saja. Catatan bulan April yang aku gunakan sebagai acuan adalah catatan yang salah. Ya, aku salah. Dan dengan agak malu-malu, aku meminta maaf. Begitulah hidup. Apa yang kita yakini benar, tak selalu benar. Hanya perasaan!! dan ada ruang dimana perasaan kita itu tak dapat melihat lebih jauh ke belakang. Dalam situasi demikian, kita perlu diam sejenak. Menyusuri titik-titik perjalanan yang kita lalui, agar kita tahu dimana letak kesalahan yang kita lakukan. Pengalaman ini, mengingatkanku pada masa-masa p...

BERBAGI HIDUP

Gambar
  Pagi ini, saat sedang melakukan kegiatan rutin di klinik, tiba-tiba satpam memanggil dan mengatakan ada orang-yang tak ku kenal- ingin berbagi bibit pepaya. “Suster, bisa tanam 3 di klinik. Nanti berbuah banyak dan dapat dibagi-bagi”   Dengan senang hati aku menerimanya dan tentunya menanam dengan sukacita pula. Entah mengapa, aku merasa dan meyakini bahwa pemberian sederhana ini adalah berkat . Dari sang pemberi aku belajar untuk berbagi, ya, berbagi kehidupan. Inilah makna terdalam yang ia ajarkan padaku “sudahkan hidupmu membawa hidup bagi orang lain?” Aku sendiri, perlu belajar terus menerus. Sambil menanam pepaya (Red California), aku memohon berkat agar hidupku pun bertumbuh dan berbuah bagi sesama.   Terimakasih semesta dan semua guru kehidupan yang membuatku semakin mengerti dan memaknai hidup dalam terang yang Ilahi.   Salam, Sr Maria Rosa, SDP  

Tuhan memberikan rahmat di setiap jawaban “Ya” yang diucapkan untuk mengikuti kehendak-Nya.

Gambar
Hari ini... Aku mengadakan perjalanan yang cukup jauh dari Temanggung ke Magelang untuk urusan sebuah perizinan. Perjalanan itu tampak begitu tak mudah karena hujan lebat turun mengguyur seluruh tubuh. Belum sempat sebuah keluhan keluar dari mulut, tiba-tiba saja pandangan mata sudah tertutup oleh butiran hujan yang mengganggu dalam perjalanan. Tangan mulai kaku, dingin mulai menusuk sampai ke tulang-tulangku. Alih-alih mengeluh, guyuran air hujan ini lebih membuatku beryukur. Setidaknya, aku masih bisa menikmati guyuran hujan di belakang rekan kerja, yang berjuang mengemudikan sepeda motor, berpacu dengan kendaran-kendaraan lain dan aku duduk tenang dibelakangnya.  Dalam keheningan bersama alam yang bersenandung di bawah hujan, aku mengenang kembali perjalanan menanggapi panggilan-Nya. Banyak hal tak terduga dalam perjalanan itu, juga sering kali berjumpa dengan gang buntu. Ah, tentu ini sangat tidak mengenakkan. Harapan untuk segera sampai pada tujuan segera saja terhenti dan har...

Pandemi, Penjara dan Panggilan untuk Kembali

Gambar
Berawal dari sebuah pertemuan yang sudah “terlupa” dari ingatan, membawaku bertatap muka dengan teman-teman di Lapas Pemuda Tangerang. Terimakasih untuk Pak Singgih yang telah memutar kembali memori ku berjumpa dengannya beberapa waktu lalu.  " Pernahkah suster melakukan pelayanan di penjara? " tanya beliau melanjutkan bincang-bincang kami lewat WA.  “ Pernah dan ingin ” jawabku sambil mengenang masa postulan saat mengunjungi penjara bersama  pembimbing dan teman-teman satu angkatan. “ Sudah sangat lama” kataku menambahkan. Bersamaan dengan itu, muncul kembali pengalaman mengunjungi pejara kira-kira 11 tahun lalu. Aku memasuki lorong demi lorong di penjara itu dan ketika hampir tiba di ruang doa, tiba tiba aku mendengar suara yang lantang memanggil namaku “ Mbak Ros” Aku masih terdiam dan tak menoleh, bagaimana mungkin di penjara ini ada yang mengenal aku? Aku melanjutkan langkah dan tetap tak menoleh. Suara yang sama memanggil namaku lagi dan suara itu makin d...