Postingan

Benar katamu, mbak Ri

Gambar
  Benar katamu, mbak Ri. Bahwa hidup itu adalah pilihan. Termasuk saat aku memilih untuk maju atau mundur menerima rasa yang tidak nyaman ini. Aku tak dapat memungkiri, bahwa kehidupan itu kadangkala bagaikan gelanggang pertandingan, dimana yang satu berjuang mengalahkan yang lain. Menjadi pemenang! Itulah harapan semua orang, tapi bagaimana mungkin semua orang itu akan menjadi pemenang? Jika satu menang, yang lain pastilah yang kalah. Dan realita lainnya adalah bahwa saat kita telah berjuang dengan sangat kuat, mempersiapkan dengan sangat baik, kehidupan seakan tak memperhitungkan usaha dan kerja keras kita. Dengan tidak adilnya, -menurut versi kita- kehidupan menghadiahkan kekalahan pada perjuangan hebat yang ingin kita banggakan. Tetapi, benar katamu mbak Ri, bahwa hidup aadalah pilihan. Bahkan saat aku kalah dalam sebuah pertandingan, aku tetap dapat memilih menjadi pemenang atas rasa gagal dan keinginan untuk menyerah. Satu hal yang kini muncul sebagai sebuah kekuatan,...

OVERLOAD, ATAU KAPASITAS RENDAH??

Gambar
Tiba-tiba saja!!! Laptop yang ku gunakan menjadi lemot , bahkan untuk membuka dokumenpun menjadi sangat lambat. Hal ini terjadi, setelah aku memasang aplikasi editor video di laptopku. Bahkan ketika membuka editing video tersebut, membuat laptop menjadi heng (red: macet). Dengan sedikit jengkel, aku mencoba bertanya sana sini. Setahuku RAM laptop ini sudah dinaikkan. Tetapi mengapa masih tetap mengalami kendala seperti ini?? Seorang teman yang mengerti soal per-laptopan mengutak atik dan sampai pada kesimpulan “prosessor pada laptop suster sudah jadul, terlalu kecil sehingga dia tidak dapat bekerja ketika ditambahkan aplikasi baru” . Padahal, menurutnya, dua aplikasi yang dimasukkan dalam laptop ini adalah aplikasi yang kecil, tetapi tetap saja grapich card- nya tidak dapat bekerja mengolah data yang ingin ku kerjakan. “Prosessor itu, istilahnya “otak” komputer atau laptop, suster ” tambahnya menjelaskan. Aku terdiam merenungkan pengetahuan baru yang ku temukan. Utak atik laptop m...

Menemukan Hening dalam bising

Gambar
  Beberapa hari ini, ruang doa kami pindah ke kapel depan karena kapel kecil yang biasa kami pakai bocor dan harus di renovasi. Perasaan awal yang muncul adalah tidak nyaman karena suara kendaraan dari luar-tepat di sebelah kapel adalah jalan raya- terdengar keras mengalahkan merdunya alunan mazmur yang kami daraskan. Jujur saja, hatiku bergulat ingin agar bisa kembali ke kapel biasa. Hingga suatu malam dalam heningku, saat aku mencoba bersahabat dengan setiap suara yang masuk ke telingaku, membiarkan semua suara itu hadir dan berdamai dengan semua rasa akhirnya membawaku pada sebuah kata bernama keheningan. Suara-suara yang ada, kini bagaikan instrument yang menghantarku pada yang Ilahi. Aku tertegun. Suatu yang dating dari luar bukanlah alas an untuk dapat hening. Yang terutama adalah usaha dan kemauan untuk “berdiam”. Demikianlah kesibukan, kebisingan bukanlah alasan yang dapat mengubah relasiku dengan yang Ilahi. Sesibuk apapun dunia diluar sana jika hatiku dapat kuolah dan...

Aku sadar bahwa aku tak selalu benar, hanya merasa benar

Gambar
  Siang ini aku mendapat pesan dari yayasan mengatakan bahwa jumlah uang yang aku kirimkan salah. Spontan aku marah karena merasa bahwa aku sudah melakukan penghitungan sesuai dengan perminntaan yayasan. “ Apa ada kenaikan tunjangan lagi? Soalnya saya sudah mengikuti pembayaran bulan April ” kataku agak ketus lewat percakapan whatsaap . Dengan perasan bahwa aku benar, aku melihat lagi catatan bulan lalu. Iya, sama. Tidak ada koreksi. Sampai akhirnya aku lihat mundur. Dan benar saja. Catatan bulan April yang aku gunakan sebagai acuan adalah catatan yang salah. Ya, aku salah. Dan dengan agak malu-malu, aku meminta maaf. Begitulah hidup. Apa yang kita yakini benar, tak selalu benar. Hanya perasaan!! dan ada ruang dimana perasaan kita itu tak dapat melihat lebih jauh ke belakang. Dalam situasi demikian, kita perlu diam sejenak. Menyusuri titik-titik perjalanan yang kita lalui, agar kita tahu dimana letak kesalahan yang kita lakukan. Pengalaman ini, mengingatkanku pada masa-masa p...

BERBAGI HIDUP

Gambar
  Pagi ini, saat sedang melakukan kegiatan rutin di klinik, tiba-tiba satpam memanggil dan mengatakan ada orang-yang tak ku kenal- ingin berbagi bibit pepaya. “Suster, bisa tanam 3 di klinik. Nanti berbuah banyak dan dapat dibagi-bagi”   Dengan senang hati aku menerimanya dan tentunya menanam dengan sukacita pula. Entah mengapa, aku merasa dan meyakini bahwa pemberian sederhana ini adalah berkat . Dari sang pemberi aku belajar untuk berbagi, ya, berbagi kehidupan. Inilah makna terdalam yang ia ajarkan padaku “sudahkan hidupmu membawa hidup bagi orang lain?” Aku sendiri, perlu belajar terus menerus. Sambil menanam pepaya (Red California), aku memohon berkat agar hidupku pun bertumbuh dan berbuah bagi sesama.   Terimakasih semesta dan semua guru kehidupan yang membuatku semakin mengerti dan memaknai hidup dalam terang yang Ilahi.   Salam, Sr Maria Rosa, SDP  

Tuhan memberikan rahmat di setiap jawaban “Ya” yang diucapkan untuk mengikuti kehendak-Nya.

Gambar
Hari ini... Aku mengadakan perjalanan yang cukup jauh dari Temanggung ke Magelang untuk urusan sebuah perizinan. Perjalanan itu tampak begitu tak mudah karena hujan lebat turun mengguyur seluruh tubuh. Belum sempat sebuah keluhan keluar dari mulut, tiba-tiba saja pandangan mata sudah tertutup oleh butiran hujan yang mengganggu dalam perjalanan. Tangan mulai kaku, dingin mulai menusuk sampai ke tulang-tulangku. Alih-alih mengeluh, guyuran air hujan ini lebih membuatku beryukur. Setidaknya, aku masih bisa menikmati guyuran hujan di belakang rekan kerja, yang berjuang mengemudikan sepeda motor, berpacu dengan kendaran-kendaraan lain dan aku duduk tenang dibelakangnya.  Dalam keheningan bersama alam yang bersenandung di bawah hujan, aku mengenang kembali perjalanan menanggapi panggilan-Nya. Banyak hal tak terduga dalam perjalanan itu, juga sering kali berjumpa dengan gang buntu. Ah, tentu ini sangat tidak mengenakkan. Harapan untuk segera sampai pada tujuan segera saja terhenti dan har...

Pandemi, Penjara dan Panggilan untuk Kembali

Gambar
Berawal dari sebuah pertemuan yang sudah “terlupa” dari ingatan, membawaku bertatap muka dengan teman-teman di Lapas Pemuda Tangerang. Terimakasih untuk Pak Singgih yang telah memutar kembali memori ku berjumpa dengannya beberapa waktu lalu.  " Pernahkah suster melakukan pelayanan di penjara? " tanya beliau melanjutkan bincang-bincang kami lewat WA.  “ Pernah dan ingin ” jawabku sambil mengenang masa postulan saat mengunjungi penjara bersama  pembimbing dan teman-teman satu angkatan. “ Sudah sangat lama” kataku menambahkan. Bersamaan dengan itu, muncul kembali pengalaman mengunjungi pejara kira-kira 11 tahun lalu. Aku memasuki lorong demi lorong di penjara itu dan ketika hampir tiba di ruang doa, tiba tiba aku mendengar suara yang lantang memanggil namaku “ Mbak Ros” Aku masih terdiam dan tak menoleh, bagaimana mungkin di penjara ini ada yang mengenal aku? Aku melanjutkan langkah dan tetap tak menoleh. Suara yang sama memanggil namaku lagi dan suara itu makin d...