Postingan

Dua Saset Coklat dan Cinta dalam persahabatan

Gambar
    “Aku bawa dua saset coklat, satu untukmu, satu untukku” katanya sambal meletakkan 2 bungkus coklat diatas meja Tentu saja ini adalah hal yang sangat menggembirakan bagiku. Sahabat ku ini, selalu punya cara untuk berbagi semangat. Segelas coklat telah kunikmati, sesaat setelah ia memberikan. Karena terburu-buru saat beres-beres saat hendak melanjutkan perjalanan, sesaset coklat itu tertinggal di kamar dan aku menyimpanya. Berhari hari, tak tersentuh. Aku tersadar ketika beres beres lagi. “Lu, coklatmu untukku saja ya” sapaku lewat pesan WA “Coklat apa?” tanyanya, mungkin pula tak ingat lagi kalau dia punya sesaset coklat yang tertinggal. “Duluuuu, coklat saset” jawabku singkat dan diikuti jawaban ya darinya. Pagi ini, sambil menunggu perkuliahan aku menyeduh segelas coklat hangat. Betapa manisnya!! Semanis persahabatan yang kami jalani hingga saat ini. Aku belajar banyak darinya. Belajar untuk mencintai dengan hal kecil dan sederhana. Sekali lagi, dia sela...

DIAN

Gambar
  “Aku ingin kuliah!! Aku ingin seperti yang lain!! Aku ingin merubah hidupku!! Tapi pada realitanya, semua itu bagaikan impian yang tak dapat kuraih, setiap kali orang bertanya tentang kuliah, aku merasakan ada sesuatu yang tidak nyaman dalam hatiku” katanya seraya menyeka air mata. Hidup ini, kadangkala seakan berlaku tak adil bagi kita. Betapa tidak, tubuh mungil yang seakan lebih dewasa dari umurnya harus berjuang menapaki hidup yang tak mudah. Bukan hanya melalui versinya dia, tetapi aku pun melihat sedikit jejak perjuangannya. Memang tak mudah. Di usianya yang masih muda, dia harus menanggung beban keluarganya. Dian. Aku teringat pada namanya. Bukankah Dian adalah lambang terang? Dimanakah dia bercahaya sangat terang? Dalam gelap! Ya, dalam kegelapan. Teruslah bercahaya Dian, walau hidup memang tak mudah. Justru dalam penderitaan itulah kamu akan semakin menemukan makna hidupmu. Apakah mudah? Menikmati gelap dan penderitaan? Sungguh, tidak. Tetapi percayalah, selalu a...

Benar katamu, mbak Ri

Gambar
  Benar katamu, mbak Ri. Bahwa hidup itu adalah pilihan. Termasuk saat aku memilih untuk maju atau mundur menerima rasa yang tidak nyaman ini. Aku tak dapat memungkiri, bahwa kehidupan itu kadangkala bagaikan gelanggang pertandingan, dimana yang satu berjuang mengalahkan yang lain. Menjadi pemenang! Itulah harapan semua orang, tapi bagaimana mungkin semua orang itu akan menjadi pemenang? Jika satu menang, yang lain pastilah yang kalah. Dan realita lainnya adalah bahwa saat kita telah berjuang dengan sangat kuat, mempersiapkan dengan sangat baik, kehidupan seakan tak memperhitungkan usaha dan kerja keras kita. Dengan tidak adilnya, -menurut versi kita- kehidupan menghadiahkan kekalahan pada perjuangan hebat yang ingin kita banggakan. Tetapi, benar katamu mbak Ri, bahwa hidup aadalah pilihan. Bahkan saat aku kalah dalam sebuah pertandingan, aku tetap dapat memilih menjadi pemenang atas rasa gagal dan keinginan untuk menyerah. Satu hal yang kini muncul sebagai sebuah kekuatan,...

OVERLOAD, ATAU KAPASITAS RENDAH??

Gambar
Tiba-tiba saja!!! Laptop yang ku gunakan menjadi lemot , bahkan untuk membuka dokumenpun menjadi sangat lambat. Hal ini terjadi, setelah aku memasang aplikasi editor video di laptopku. Bahkan ketika membuka editing video tersebut, membuat laptop menjadi heng (red: macet). Dengan sedikit jengkel, aku mencoba bertanya sana sini. Setahuku RAM laptop ini sudah dinaikkan. Tetapi mengapa masih tetap mengalami kendala seperti ini?? Seorang teman yang mengerti soal per-laptopan mengutak atik dan sampai pada kesimpulan “prosessor pada laptop suster sudah jadul, terlalu kecil sehingga dia tidak dapat bekerja ketika ditambahkan aplikasi baru” . Padahal, menurutnya, dua aplikasi yang dimasukkan dalam laptop ini adalah aplikasi yang kecil, tetapi tetap saja grapich card- nya tidak dapat bekerja mengolah data yang ingin ku kerjakan. “Prosessor itu, istilahnya “otak” komputer atau laptop, suster ” tambahnya menjelaskan. Aku terdiam merenungkan pengetahuan baru yang ku temukan. Utak atik laptop m...

Menemukan Hening dalam bising

Gambar
  Beberapa hari ini, ruang doa kami pindah ke kapel depan karena kapel kecil yang biasa kami pakai bocor dan harus di renovasi. Perasaan awal yang muncul adalah tidak nyaman karena suara kendaraan dari luar-tepat di sebelah kapel adalah jalan raya- terdengar keras mengalahkan merdunya alunan mazmur yang kami daraskan. Jujur saja, hatiku bergulat ingin agar bisa kembali ke kapel biasa. Hingga suatu malam dalam heningku, saat aku mencoba bersahabat dengan setiap suara yang masuk ke telingaku, membiarkan semua suara itu hadir dan berdamai dengan semua rasa akhirnya membawaku pada sebuah kata bernama keheningan. Suara-suara yang ada, kini bagaikan instrument yang menghantarku pada yang Ilahi. Aku tertegun. Suatu yang dating dari luar bukanlah alas an untuk dapat hening. Yang terutama adalah usaha dan kemauan untuk “berdiam”. Demikianlah kesibukan, kebisingan bukanlah alasan yang dapat mengubah relasiku dengan yang Ilahi. Sesibuk apapun dunia diluar sana jika hatiku dapat kuolah dan...

Aku sadar bahwa aku tak selalu benar, hanya merasa benar

Gambar
  Siang ini aku mendapat pesan dari yayasan mengatakan bahwa jumlah uang yang aku kirimkan salah. Spontan aku marah karena merasa bahwa aku sudah melakukan penghitungan sesuai dengan perminntaan yayasan. “ Apa ada kenaikan tunjangan lagi? Soalnya saya sudah mengikuti pembayaran bulan April ” kataku agak ketus lewat percakapan whatsaap . Dengan perasan bahwa aku benar, aku melihat lagi catatan bulan lalu. Iya, sama. Tidak ada koreksi. Sampai akhirnya aku lihat mundur. Dan benar saja. Catatan bulan April yang aku gunakan sebagai acuan adalah catatan yang salah. Ya, aku salah. Dan dengan agak malu-malu, aku meminta maaf. Begitulah hidup. Apa yang kita yakini benar, tak selalu benar. Hanya perasaan!! dan ada ruang dimana perasaan kita itu tak dapat melihat lebih jauh ke belakang. Dalam situasi demikian, kita perlu diam sejenak. Menyusuri titik-titik perjalanan yang kita lalui, agar kita tahu dimana letak kesalahan yang kita lakukan. Pengalaman ini, mengingatkanku pada masa-masa p...

BERBAGI HIDUP

Gambar
  Pagi ini, saat sedang melakukan kegiatan rutin di klinik, tiba-tiba satpam memanggil dan mengatakan ada orang-yang tak ku kenal- ingin berbagi bibit pepaya. “Suster, bisa tanam 3 di klinik. Nanti berbuah banyak dan dapat dibagi-bagi”   Dengan senang hati aku menerimanya dan tentunya menanam dengan sukacita pula. Entah mengapa, aku merasa dan meyakini bahwa pemberian sederhana ini adalah berkat . Dari sang pemberi aku belajar untuk berbagi, ya, berbagi kehidupan. Inilah makna terdalam yang ia ajarkan padaku “sudahkan hidupmu membawa hidup bagi orang lain?” Aku sendiri, perlu belajar terus menerus. Sambil menanam pepaya (Red California), aku memohon berkat agar hidupku pun bertumbuh dan berbuah bagi sesama.   Terimakasih semesta dan semua guru kehidupan yang membuatku semakin mengerti dan memaknai hidup dalam terang yang Ilahi.   Salam, Sr Maria Rosa, SDP