Postingan

Sensitif?

Gambar
  Sensitif, bagaimana mungkin? Tadi siang, setelah latihan persiapan Temu Hari Anak Misioner di Paroki, bersama Sr. Paulina aku segera pulang ke komunitas karena sudah janjian untuk Yoga dengan pasien. Di perjalanan, aku teringat bahwa perlu membeli buah untuk komunitas. Maka mampirlah kami di toko buah langgaran. lihat sana-sini, sampailah pada keputusan untuk membeli duku. Saat hendak memilih, sang penjual katakan “ pakai ini mbak, soalnya buahnya sensitif ” katanya sambil menyodorkan piring melamin padaku. Aku mengernyitkan kening. “ kalau disentuh tangan, buahnya sensitif, jadi cepat hitam mbak ” lanjutnya seperti membaca pikiranku. Buah duku, gampang menghitam- sensitif- seperti bahasa penjual buah. Kata -kata itu masih menggelitik dihatiku, buah duku mempunyai sensitifitas pada panas sehingga saat disentuh oleh tangan manusia, cepat berubah menjadi hitam. Buah si buruk rupa demikianlah duku sering dijuluki, walaupun sebe...

Tampak Kuat dalam Kerapuhan?

Gambar
  Hari-hari ini aku merasakan gigiku bermasalah lagi. Setiap kali gosok gigi terasa ngilu dan sakit saat terkena air yang dingin. Kuputuskan untuk periksa ke dokter. Apakah tambalan kecil sebelumnya rusak, atau ada masalah lain? Dokter mulai memeriksa, sambil mengetuk satu gigi dengan gigi lain dokter bertanya, apakah rasanya beda atau sama saat mengetuk gigi yang berbeda. Aku tidak sedang ingin bercerita tentang proses pemeriksaan gigi dari awal sampai akhir. Yang menarik bagiku adalah kata-kata Drg. Dinda “Suster, giginya dari luar tampak kuat tetapi sebenarnya di dalam sudah rapuh” sambil menyarankan agar ditambal dahulu, jika tetap sakit maka perlu Perawatan Saraf Akar. Aku merenungkan kata-kata singkat tetapi sangat dalam – menurut versiku- adakalanya sesuatu begitu tampak indah, kuat, gagah dari luar tetapi di dalam begitu rapuh dan rusak. Bukankah demikian kadangkala terjadi dalam hidup? Dunia “memaksa” kita untuk menjadi tangguh, sampai kita lupa caranya menikmati dan...

Soal Baru, Jalan Baru, Rahmat Baru

Gambar
“Aku kok MTBS nggak mudeng ya? Apa pas dijelaskan aku entah kemana?” kata ku memulai pembicaraan di group wa setelah ujian komunitas selesai. “Aku merasa belum ada materi MTBS di komunitas, apa aku ketiduran ya?” Sulis melanjutkan “Aku juga merasa belum pernah mendengar” Kata mbak Hesty yang semakin menguatkanku bahwa materi itu memang belum kami pelajari dan mengapa banyak muncul di soal ujian. Tentu hal yang mengagetkan, aneh dan sulit untuk diterima, saat diri merasa belum siap dan mendapatkan soal ujian yang tak sesuai dengan apa yang dipelajari – tentu ini adalah versiku. Tetapi jika memandang lebih luas, materi itu adalah bagian dari kebidanan yang kami geluti dalam asuhan kebidanan komunitas. Aku tertegun sejenak. Bukankah kadangkala hidup pun demikian adanya? Ada soal-soal baru dalam kehidupan, yang tampaknya belum pernah ku pelajari dalam hidup. Ada situasi situasi baru yang membuatku kaget karena merasa baru pertama kali mengalaminya. Jalan baru itu, persoalan ba...
Gambar
Tiga hari, kami angkatan alih jenjang berjuang melampaui satu tahap untuk bertumbuh. Ujian sudah usai, tetapi kebersamaan, semangat dan keramaian di selasar depan laboratorium kebidanan lantai 6, masih terngiang hingga malam ini. Dibalik usaha untuk melewati ujian, ada satu hal yang menarik yang membuatku berkata dalam hati sesederhana inikah bahagia? Sudah dua hari, kami – atau mungkin hanya beberapa termasuk aku – sangat ingin memasuki ruangan teater yang biasanya dipakai untuk kuliah kelas besar. Tetapi kesempatan itu selalu terhenti karena ada kelas regular yang selalu memakai ruangan itu. Alasannya sederhana, “ kok keren… kayak bioskop ya, ingin photo yaaa” Hari ini, karena mungkin Sabtu jadi tidak banyak mahasiswa yang ke kampus, jadilah ruangan itu kosong. Dengan semangat -sementara ujian sedang berlangsung- kami segera berlari menempati kursi-kursi yang empuk, duduk dengan mata yang berbinar-binar karena akhirnya dapat menduduki ruangan yang sangat ingin kami masuki. Deng...

UJIAN

Gambar
Sejak diumumkan ada perubahan jadwal OSCA -ujian yang “menyeramkan” bagi mahasiswa kebidanan (paling tidak, itulah pemikiranku di awal, dan masih saja buat deg deg an), WA grup Pejuang Ijazah S1 Kebidanan mulai ramai. Apa yang perlu dipersiapkan, skill mana yang kira-kira diujikan dan siapa yang akan menjadi penguji. OSCA, ujian skill kebidanan dimana tiap stage mahasiswa hanya diberi waktu 7 menit untuk menyelesaikan kasus yang ada. Dan jantung selalu berdetak kencang saat bunyi bel memecah konsentrasi dan segera harus pindah ke stage berikutnya untuk menyelesaikan kasus baru sesuai petunjuk. Itu sangatlah “menyeramkan” Ketegangan itu makin terasa saat satu persatu dari kelas regular dipanggil. Kami yang kelas alih jenjang mulai meraba-raba, bahwa yang keluar adalah skill a,b,c,d. Sontak kumpulan mahasiswa kebidanan menghapalkan skill pemberian MGSO4 yang sama sekali diluar “penerawangan” kami. Seorang teman nyeletuk “ini tidak sesuai kenyataan dilapangan”, yang lain menimpali “ce...

Bagaimana Kabar Hatimu?

Gambar
  “Lalu aku harus gimana?” Kata gadis mungil itu secara singkat lewat pesan WA nya “Tanyalah hatimu!!!” Kataku padanya. “Baik suster, saya pergi ke hati dulu” Lanjutnya, dan menutup pembicaraaan kami sore itu. Perlahan, bis itu melaju kentjang, menembus kabut kekhawatiran dan keraguan menuju Cikarang. Dia telah mengikuti kata hatinya . Bagaimana kabar hatimu hari ini kawan? Itulah yang selalu ingin ku tahu, bahwa perlu kita sesekali mengunjunginya, berbicara banyak hal di dalamnya, dan bahkan mengambil keputusan daripadanya. Bagaimana kabar hatimu hari ini, gadis mungil? Setelah memutuskan untuk melangkahkan kaki memilih bekerja di Cikarang? Mungkin saja, jawabannya tak selalu soal kebaikan dan kebahagiaan, tetapi apapun yang berasal dari hati, akan Kembali menguatkan hati. Apapun yang terjadi, semoga engkau tak pernah lupa bahwa hidupmu BERHARGA. Harimu, sungguh luas!!! Bersumber dari hati-Nya yang juga lebih luas Tua Providentia Pater Gubernat Sr. Maria Rosa, SDP

Dua Saset Coklat dan Cinta dalam persahabatan

Gambar
    “Aku bawa dua saset coklat, satu untukmu, satu untukku” katanya sambal meletakkan 2 bungkus coklat diatas meja Tentu saja ini adalah hal yang sangat menggembirakan bagiku. Sahabat ku ini, selalu punya cara untuk berbagi semangat. Segelas coklat telah kunikmati, sesaat setelah ia memberikan. Karena terburu-buru saat beres-beres saat hendak melanjutkan perjalanan, sesaset coklat itu tertinggal di kamar dan aku menyimpanya. Berhari hari, tak tersentuh. Aku tersadar ketika beres beres lagi. “Lu, coklatmu untukku saja ya” sapaku lewat pesan WA “Coklat apa?” tanyanya, mungkin pula tak ingat lagi kalau dia punya sesaset coklat yang tertinggal. “Duluuuu, coklat saset” jawabku singkat dan diikuti jawaban ya darinya. Pagi ini, sambil menunggu perkuliahan aku menyeduh segelas coklat hangat. Betapa manisnya!! Semanis persahabatan yang kami jalani hingga saat ini. Aku belajar banyak darinya. Belajar untuk mencintai dengan hal kecil dan sederhana. Sekali lagi, dia sela...