Postingan

Re-Set

Gambar
   (Gambar dari internet) Dari tadi sore aku sedikit terganggu dengan layar handphone -ku yang tiba-tiba berubah warna menjadi tampak kekuningan dan buram. Aku coba mencari-cari penyebabnya di pengaturan tetapi tak kunjung menemukan. Kubiarkan, karena aku sudah lelah mencari cara mengubah warnanya. Malam pun tiba, aku kembali membuka hp-ku dan masih menggerutu dengan warna yang tak jelas dipandanganku. Aku buka kacamata, berharap penyebabnya adalah kacamataku yang buram. Sama saja, bukan. Lalu, tanpa sengaja, aku menggeser bagian atas layar, menemukan item yang membuat warna layar berubah menjadi perisai malam. Sekali klik! Beres. Layar hp-ku kembali cerah .. Berubah warna! Menjadi buram! Kadangkala begitulah hidup. Ada settingan yang berganti yang membuat kita menjadi tak dapat menikmati hidup. Kelelahan, banyaknya tuntutan, tugas rangkap, atau bahkan saat tak punya suatu tujuan yang ingin diperjuangkan dalam hidup. Healing ! Begitulah kerinduan banyak orang untuk menjernihka...

Yupi, Kopiko, dan kesetiaan untuk berproses. Jadilah Tangguh!

Gambar
Siang ini, aku janjian dengan dosen pembimbing untuk bimbingan skripsi. “Jam 14.00 ya Suster” katanya, saat aku kontrak waktu beberapa hari lalu. Sambil mengeluarkan sepeda motor, aku sedikit menggerutu karena penanda bahan bakar motor sudah digaris dua, artinya perlu ke pom bensin. Untung saja waktunya cukup. Sampai di kampus, ruang tunggu di depan kantor dosen sudah penuh mahasiswa. Aku mengambil posisi duduk di kursi kosong didekat dua mahasiswi yang juga sedang duduk menunggu. Waktu menunjukkan pkl. 14.00, dosen pembimbing tak kunjung datang, tak ada kabar dan tak ada di kantor. “sedang ada pelatihan, selesai jam 15.00, mbak” kata teman yang duduk disebelahku. Kembali, dengan menggerutu aku menunggu sambil berbincang – bincang dengan teman disebelahku, sampai akhirnya tinggal aku dan seorang mahasiswa keperawatan yang masih setia menunggu. “suster itu apa mbak” katanya ketika pak Rahmat, satpam STIKES berbicara denganku dan menyapaku dengan sebutan suster. Pertanyaan yang akhinya m...

Sensitif?

Gambar
  Sensitif, bagaimana mungkin? Tadi siang, setelah latihan persiapan Temu Hari Anak Misioner di Paroki, bersama Sr. Paulina aku segera pulang ke komunitas karena sudah janjian untuk Yoga dengan pasien. Di perjalanan, aku teringat bahwa perlu membeli buah untuk komunitas. Maka mampirlah kami di toko buah langgaran. lihat sana-sini, sampailah pada keputusan untuk membeli duku. Saat hendak memilih, sang penjual katakan “ pakai ini mbak, soalnya buahnya sensitif ” katanya sambil menyodorkan piring melamin padaku. Aku mengernyitkan kening. “ kalau disentuh tangan, buahnya sensitif, jadi cepat hitam mbak ” lanjutnya seperti membaca pikiranku. Buah duku, gampang menghitam- sensitif- seperti bahasa penjual buah. Kata -kata itu masih menggelitik dihatiku, buah duku mempunyai sensitifitas pada panas sehingga saat disentuh oleh tangan manusia, cepat berubah menjadi hitam. Buah si buruk rupa demikianlah duku sering dijuluki, walaupun sebe...

Tampak Kuat dalam Kerapuhan?

Gambar
  Hari-hari ini aku merasakan gigiku bermasalah lagi. Setiap kali gosok gigi terasa ngilu dan sakit saat terkena air yang dingin. Kuputuskan untuk periksa ke dokter. Apakah tambalan kecil sebelumnya rusak, atau ada masalah lain? Dokter mulai memeriksa, sambil mengetuk satu gigi dengan gigi lain dokter bertanya, apakah rasanya beda atau sama saat mengetuk gigi yang berbeda. Aku tidak sedang ingin bercerita tentang proses pemeriksaan gigi dari awal sampai akhir. Yang menarik bagiku adalah kata-kata Drg. Dinda “Suster, giginya dari luar tampak kuat tetapi sebenarnya di dalam sudah rapuh” sambil menyarankan agar ditambal dahulu, jika tetap sakit maka perlu Perawatan Saraf Akar. Aku merenungkan kata-kata singkat tetapi sangat dalam – menurut versiku- adakalanya sesuatu begitu tampak indah, kuat, gagah dari luar tetapi di dalam begitu rapuh dan rusak. Bukankah demikian kadangkala terjadi dalam hidup? Dunia “memaksa” kita untuk menjadi tangguh, sampai kita lupa caranya menikmati dan...

Soal Baru, Jalan Baru, Rahmat Baru

Gambar
“Aku kok MTBS nggak mudeng ya? Apa pas dijelaskan aku entah kemana?” kata ku memulai pembicaraan di group wa setelah ujian komunitas selesai. “Aku merasa belum ada materi MTBS di komunitas, apa aku ketiduran ya?” Sulis melanjutkan “Aku juga merasa belum pernah mendengar” Kata mbak Hesty yang semakin menguatkanku bahwa materi itu memang belum kami pelajari dan mengapa banyak muncul di soal ujian. Tentu hal yang mengagetkan, aneh dan sulit untuk diterima, saat diri merasa belum siap dan mendapatkan soal ujian yang tak sesuai dengan apa yang dipelajari – tentu ini adalah versiku. Tetapi jika memandang lebih luas, materi itu adalah bagian dari kebidanan yang kami geluti dalam asuhan kebidanan komunitas. Aku tertegun sejenak. Bukankah kadangkala hidup pun demikian adanya? Ada soal-soal baru dalam kehidupan, yang tampaknya belum pernah ku pelajari dalam hidup. Ada situasi situasi baru yang membuatku kaget karena merasa baru pertama kali mengalaminya. Jalan baru itu, persoalan ba...
Gambar
Tiga hari, kami angkatan alih jenjang berjuang melampaui satu tahap untuk bertumbuh. Ujian sudah usai, tetapi kebersamaan, semangat dan keramaian di selasar depan laboratorium kebidanan lantai 6, masih terngiang hingga malam ini. Dibalik usaha untuk melewati ujian, ada satu hal yang menarik yang membuatku berkata dalam hati sesederhana inikah bahagia? Sudah dua hari, kami – atau mungkin hanya beberapa termasuk aku – sangat ingin memasuki ruangan teater yang biasanya dipakai untuk kuliah kelas besar. Tetapi kesempatan itu selalu terhenti karena ada kelas regular yang selalu memakai ruangan itu. Alasannya sederhana, “ kok keren… kayak bioskop ya, ingin photo yaaa” Hari ini, karena mungkin Sabtu jadi tidak banyak mahasiswa yang ke kampus, jadilah ruangan itu kosong. Dengan semangat -sementara ujian sedang berlangsung- kami segera berlari menempati kursi-kursi yang empuk, duduk dengan mata yang berbinar-binar karena akhirnya dapat menduduki ruangan yang sangat ingin kami masuki. Deng...

UJIAN

Gambar
Sejak diumumkan ada perubahan jadwal OSCA -ujian yang “menyeramkan” bagi mahasiswa kebidanan (paling tidak, itulah pemikiranku di awal, dan masih saja buat deg deg an), WA grup Pejuang Ijazah S1 Kebidanan mulai ramai. Apa yang perlu dipersiapkan, skill mana yang kira-kira diujikan dan siapa yang akan menjadi penguji. OSCA, ujian skill kebidanan dimana tiap stage mahasiswa hanya diberi waktu 7 menit untuk menyelesaikan kasus yang ada. Dan jantung selalu berdetak kencang saat bunyi bel memecah konsentrasi dan segera harus pindah ke stage berikutnya untuk menyelesaikan kasus baru sesuai petunjuk. Itu sangatlah “menyeramkan” Ketegangan itu makin terasa saat satu persatu dari kelas regular dipanggil. Kami yang kelas alih jenjang mulai meraba-raba, bahwa yang keluar adalah skill a,b,c,d. Sontak kumpulan mahasiswa kebidanan menghapalkan skill pemberian MGSO4 yang sama sekali diluar “penerawangan” kami. Seorang teman nyeletuk “ini tidak sesuai kenyataan dilapangan”, yang lain menimpali “ce...